jump to navigation

Relung No. 02/Th. VI November 10, 2007

Posted by generasibarujogja in Relung.
add a comment

Relung No. 02/Th. VI
10 – 17 November 2007

SAPA

Jemaat yang terkasih,

Sejak Sabtu kemarin, kita dilayani oleh hamba Tuhan yang bergerak dalam pelayanan kenabian, kesembuhan, dan mukjizat – Rusty Russell. Bersamanya kita mengadakan Seminar Kenabian yang membahas topik “Belajar Mendengar Suara Allah,” “Cara Mengenali Suara Allah,” “Karunia Bernubuat,” dan “Pelayanan Nabi”. Selain itu, khusus bagi kepemimpinan dan keluarga, Rusty juga menyediakan untuk menyampaikan nubuatan pribadi.

Pagi ini kita akan mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan melalui dirinya. Kita percaya Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Kiranya kuasa kesembuhan dan mukjizat-Nya dinyatakan di tengah-tengah kita.

Bagi yang ingin mengenal lebih jauh Rusty dan pelayanannya, silakan singgah di www.miraclelifemin.org. Di situ kita bisa membaca sejumlah kesaksian orang yang dijamah Tuhan melalui pelayanannya, termasuk kesaksian Ibu Inge Gunawan.

– Redaksi

ARTIKEL
6 Sinyal Peringatan Agar Tidak Terjungkal

Kesuksesan dan kegagalan tidak jarang berjarak setipis kulit bawang. Seorang atlet yang dikalungi medali emas Olimpiade esoknya menjadi bahan cemoohan publik sedunia karena ketahuan menenggak doping. Seorang presiden diganjar penghargaan intenasional di bidang pangan, beberapa bulan kemudian lengser karena dianggap sebagai biang krisis ekonomi di negerinya. Seorang pengusaha kelas kakap mendadak dinyatakan bangkrut. Seorang rohaniman terkemuka tergelincir dalam skandal seksual.

Kabar buruknya, tragedi semacam itu bisa menimpa siapa saja, di bidang apa saja. Tidak ada seorang pun yang kalis dari ancamannya. Kabar baiknya, kerontokan semacam itu biasanya tidak terjadi secara serta-merta. Seperti lalu lintas, sepanjang jalan ada sinyal-sinyal peringatan. Mematuhinya bisa menolong kita terhindar dari kecelakaan; menutup mata tak ayal membuat kita terjungkal.

Mark Sanborn, seorang pembicara profesional dalam bidang kepemimpinan, manajemen perubahan, layanan pelanggan dan kerjasama tim, menelaah enam sinyal tanda bahaya yang perlu diwaspadai para pemimpin.

#1 Pergeseran Fokus

Pergeseran ini bisa bermacam-macam bentuknya. Tak jarang pemimpin tak tahu lagi mana yang penting dan patut diprioritaskan. Bisa pula pemimpin yang mestinya “berpikir besar” malah terjebak mengutik-utik perkara remeh (micro-managing).

Pemimpin yang lebih berkonsentrasi “melakukan” daripada “menjadi” juga telah bergeser fokusnya. Hasil kerja seorang pemimpin biasanya mengalir dari visi dan karakternya. Pemimpin yang terlalu berorientasi pada tindakan pada gilirannya akan melalaikan pentingnya pengembangan pribadi.

Apakah fokus utama anda saat ini? Apakah pemikiran anda berkembang atau mengerut? Jawaban atas pertanyaan ini menandakan apakah fokus kepemimpinan anda terarah pada tempatnya.

#2 Komunikasi Buruk

Fokus yang tidak jelas membuahkan disorientasi, dan berujung pada komunikasi yang buruk. Kalau pemimpin bingung dan tidak yakin akan tujuannya, tak jarang ia menyelubunginya dengan komunikasi yang samar-samar. Lalu, bagaimana pengikutnya diharapkan dapat memahaminya dengan baik?

Pengikut yang berdedikasi dituntut secara otomatis dapat “mencium” tujuan pemimpinnya tanpa harus diberi tahu. Kesalahpahaman dipandang sebagai kurangnya komitmen si pengikut, bukannya akibat komunikasi yang keruh dari si pemimpin. Ini tentu tidak fair.

Komunikasi yang baik menuntut kerja keras. Pemimpin kudu memahami benar-benar tujuannya untuk memiliki titik pijak bagi komunikasi yang efektif.

#3 Keengganan Mengambil Risiko

Sukses terdahulu, alih-alih menjadi modal untuk meraih sukses selanjutnya, kemungkinan justru membebani langkah pemimpin. Bagaimana mempertahankan kinerja yang hebat itu? Bagaimana mencetak lagi sukses serupa, atau sekalian yang lebih baik? Ia pun lebih dibayang-bayangi oleh ketakutan akan kegagalan daripada dipantik oleh impian akan sukses.

Akibatnya, mereka enggan untuk mengambil risiko yang perlu, dan cenderung bermain aman. Keinginan untuk menjajal inovasi juga memudar.

Apa yang lebih penting bagi anda: jerih upaya atau hasil akhir? Bila diperlukan, masih bersediakah anda mengambil risiko? Pemimpin yang arif tidak menempuh perubahan secara nekad sehingga berisiko menghancurkan pencapaian terdahulu; tidak pula dilumpuhkan oleh ketakutan sehingga terancam menjadi mandul.

#4 Kegoyahan Integritas

Kredibilitas pemimpin berangkat dari kompetensi dan karakternya. Bila kedua aspek ini tidak selaras, integritas pemimpin pun dipertanyakan.

Padahal, prinsip pokok pemimpin tak lain adalah integritas. Ketika integritas tidak lagi diprioritaskan, ketika kompromi etika dibenarkan, ketika tujuan menghalalkan cara – saat itulah pemimpin tergelincir menuju tubir kegagalan.

Dalam kondisi itu, pengikut cenderung hanya dianggap sebagai bidak, sekadar kendaraan untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan berubah menjadi manipulasi, orang diperdayakan bukannya diberdayakan, dan pemimpin pun kehilangan empati terhadap pengikutnya.

Keteguhan integritas, dengan demikian, perlu terus-menerus dicermati. Adakah konflik antara keyakinan anda dan perilaku anda? Apakah anda mulai membiarkan kompromi berlangsung? Sangat bagus bila pemimpin senantiasa membuka diri pada mentor atau penasihat yang kompeten untuk mengarahkannya dalam keselarasan tata susila.

#5 Self-Management Buruk

Kepemimpinan itu memang menggairahkan, namun sekaligus sangat menguras stamina. Masalahnya, pemimpin kerap dipandang sebagai superman dengan cadangan energi tanpa batas. Tanda-tanda keletihan dan stres lalu sering ditepiskan begitu saja – atau dikompensasi dengan “hiburan” yang menabrak pagar etika dan moralitas.

Pemimpin yang mengabaikan kebutuhan fisik, psikologis, emosional, dan spiritual mereka, mesti siap-siap menghadapi bencana. Seperti bahan bakar, bila jarum penunjuk mendekati titik “kosong”, berarti anda memerlukan penyegaran kembali dan pengisian ulang. Luangkan waktu khusus untuk memulihkan kembali kondisi anda. Kepemimpinan anda hanya dapat bertumbuh dan berkembang bila bahan bakar anda penuh.

#6 Kehilangan “Cinta Pertama”

Kepemimpinan berangkat dari cinta dan impian, suatu visi yang menggugah seseorang untuk mendedikasikan hidup demi mewujudkannya. Dengan landasan itu, kerja keras dalam kepemimpinan justru mendatangkan kepuasan dan bahkan menyenangkan.

Sayangnya, pemimpin tak luput dari sindroma “panas-panas cirit ayam”. Di tengah jalan ia bisa kehilangan gairah dan motivasi, “cinta pertama” yang menggerakkan mereka pada mulanya, dan merasa sedang menjalani sesuatu yang kurang berarti.

Untuk menjaga kobaran cinta pertama tersebut, pemimpin perlu acap merenungkan: Kenapa saya dulu bersedia memangku kepemimpinan? Adakah alasan itu telah berubah? Apakah saya masih ingin memimpin?

Dengan mencermati keenam sinyal di atas, dan menanggapinya secara tepat, kita dapat terlepas dari kejatuhan yang menyakitkan. Seperti menghadapi penyakit, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? ***

– Arie Saptaji
http://ariesaptaji.blogs.friendster.com/

Beda Buahnya

Baca: Yohanes 14:15-31

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. – Yoh. 15:16

Dua orang mahasiswa lulus dari Chicago-Kent College of Law. Peringkat tertinggi diraih mahasiswa buta bernama Overton. Saat ia menerima penghargaan, ia bersikeras, separuhnya harus diberikan kepada kawannya, Kaspryzak, yang ternyata tidak berlengan. Suatu hari mereka bertemu, dan Kaspryzak menolong Overton menuruni tangga. Sejak itu persahabatan mereka kian karib, dan mereka saling melengkapi kekurangan masing-masing. Misalnya, Overton membawa buku dan Kaspryzak membacanya. Begitu lulus, mereka berencana membuka lembaga hukum bersama-sama.

Yesus menyebut Roh Kudus sebagai Penolong. Dalam kondisi kita, kitalah yang sepenuhnya lemah dan memerlukan bantuan. Sebaliknya, Dia Allah yang mahakuasa, namun memilih untuk berkarya melalui kita, bejana tanah liat yang mudah retak. Agar kita dapat menjalankan pelayanan dan pekerjaan rohani, Dia memperlengkapi kita dengan karunia-karunia rohani-Nya.

Setiap orang dikaruniai bakat dan talenta tertentu, namun hanya orang-orang percaya yang diperlengkapi dengan karunia rohani. Karunia rohani mengangkat kita ke dalam dimensi yang lebih tinggi, memampukan kita menghasilkan buah-buah rohani yang kekal. Billy Graham, misalnya. Banyak orang yang fasih berbicara seperti atau malah mengungguli dirinya. Namun, berapa banyak pembicara yang menyaksikan orang datang kepada Tuhan dan bertobat setelah menyimak ceramah mereka?

Anda mendambakan buah-buah rohani yang kekal? Andalkan pertolongan Roh Kudus di dalam segala pelayanan dan pekerjaan anda! ***

– Arie Saptaji
http://sepatuwarrior.wordpress.com/

The Devil Wears Prada
Panggilan Hidup di Tangga Karir

Apa yang akan Anda lakukan untuk meraih karir idaman? Andy Sachs (Anne Hathaway), yang baru saja lulus kuliah jurnalisme, memulai karirnya dengan menjadi asisten kedua Miranda Priestly (Meryl Streep), editor majalah Runway. Runway adalah majalah mode paling berpengaruh, dan Miranda adalah pemegang kekuasaan tertinggi di baliknya. Ia disanjung sebagai dewi baik oleh rekan kerja maupun oleh pesaingnya.

Kalau Anda pernah bekerja padanya, dan bertahan paling tidak satu tahun, berbagai pintu kesempatan akan terbuka bagi Anda. Tentu saja dia bukan bos yang lunak. Lihat saja julukannya: The Devil.

The Devil Wears Prada diadaptasi oleh David Frankel dari chick lit laris Lauren Weisberger berjudul sama yang terbit tahun 2003. Sepanjang kisah terpapar bagaimana kehidupan pribadi Andy selagi ia berjuang keras meniti tangga karir. Seorang rekan kerjanya, Nigel (Stanley Tucci), terang-terangan menyatakan, ia akan tahu kalau telah berjaya dalam karir ketika kehidupan pribadinya sepenuhnya berantakan.

Sampai sejauh itukah? Tentu tak salah kita berjuang mengembangkan karir. Namun, mestikah sampai mengorbankan kehidupan pribadi dan kehidupan keluarga? Benarkah makna hidup kita ditentukan oleh kegemilangan karir kita? Bagaimana bila karir kita rontok? Bagaimana pula bila sesampai di puncak ternyata kita menggapai dinding yang keliru?

Karir menjadi segala-galanya ketika kita tidak memahami panggilan hidup yang sesungguhnya. Panggilan hidup diawali dengan kesadaran bahwa makna hidup kita bukan ditentukan oleh apa yang kita raih, melainkan oleh siapa diri kita: bahwa kita adalah anak-anak Allah, diciptakan oleh-Nya untuk melakukan perbuatan baik sebagai umat Kerajaan-Nya yang bertanggung jawab.

Saat kita menyadari bahwa kita telah dipanggil dan diperlengkapi untuk melayani Dia melalui karir yang kita jalani, tak ayal titian karir kita akan stabil. ***

– Arie Saptaji
http://www.geocities.com/denmasmarto

Relung No. 01/Th. VI November 8, 2007

Posted by generasibarujogja in Relung.
add a comment

4 – 10 November 2007

SAPA

Jemaat yang terkasih,

Balik ke Nomor 1 lagi! Yap, Relung sudah melewati masa balita, dan minggu ini memasuki tahun keenam. Perubahan paling signifikan yang pernah dilaluinya adalah perubahan dari ’renungan harian’ menjadi ’majalah mingguan’.

Yang paling diharapkan sebenarnya adalah masukan dari jemaat sekalian atas keberadaan warta ini. Bisa berupa kritik atau saran, dan terutama sumbangan naskah. Itu yang masih kurang sepanjang perjalanan lima tahun Relung. Bukankah sebetulnya mingguan ini dapat dijadikan salah satu ajang untuk menumpahkan kreativitas, seperti dikhotbahkan Bang Sam minggu lalu?

Salam kreatif!

– Redaksi

ARTIKEL
Bagaimana Dia Tahu

Pada akhir zaman, milyaran manusia akan tersebar di atas dataran yang luas di hadapan tahta Allah. Beberapa kelompok di bagian muka berbicara dengan serunya. Bukan dengan kengerian disertai rasa malu, melainkan dengan suara seperti sedang berperang.

“Bagaimana Allah dapat menghakimi kita? Bagaimana Dia dapat mengetahui tentang penderitaan?” sentak seorang gadis berambut cokelat. Dia menyingsingkan lengan bajunya untuk menunjukkan sebuah nomor tato dari sebuah kamp konsentrasi Nazi. “Kami mengalami teror, pukulan, aniaya, kematian.”

Di kelompok lain, seorang pria berkulit hitam menurunkan kerahnya. “Bagaimana dengan ini?” dia menuntut, sambil menunjukkan bekas luka jerat. “Dihukum mati tanpa kesalahan, tetapi hanya karena berkulit hitam! Kami mati lemas di kapal budak, disentakkan dari orang-orang terkasih, bekerja keras, dan hanya maut yang memberikan kelegaan.”

Di hamparan tanah datar itu terdapat ratusan kelompok seperti mereka. Setiap orang mengeluh terhadap Allah atas kemalangan dan penderitaan yang dibiarkan-Nya berlangsung di dunia ini.

Betapa mujurnya Allah tinggal di Surga, di mana semuanya manis dan terang, tidak ada tangisan, rasa takut, kelaparan, kebencian. Memang, apa yang Allah tahu tentang bagaimana manusia telah dipaksa untuk menderita di dunia ini? “Bagaimanapun, Allah menikmati kehidupan yang sangat terlindung,” kata mereka.

Maka, masing-masing kelompok mengirimkan seorang pemimpin, yang dipilih karena dialah yang paling menderita. Ada orang Yahudi, orang kulit hitam, orang India dari kasta yang tidak tersentuh, anak haram, seorang dari Hiroshima dan seorang dari kamp perbudakan Siberia. Di tengah dataran itu, mereka berunding satu sama lain. Akhirnya, mereka siap untuk mengajukan kasus mereka.

Pengadilan itu sederhana saja: Sebelum Allah layak menjadi hakim mereka, Dia harus mengalami apa yang telah mereka alami. Keputusan mereka adalah bahwa Allah harus dihukum untuk tinggal di bumi sebagai seorang manusia.

Tetapi karena Dia adalah Allah, mereka memberikan batasan tertentu agar Dia tidak memakai kuasa ilahi-Nya untuk menolong Diri-Nya Sendiri:

Biarlah Dia lahir sebagai seorang Yahudi.
Biarlah keabsahan kelahiran-Nya diragukan, sehingga tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya ayah-Nya.
Biarlah Dia mengadili sebuah perkara dengan sangat adil, namun sekaligus sangat radikal, sehingga otoritas religius yang kolot dan otoritas tradisional lainnya membenci Dia, menghukum-Nya dan berusaha menyingkirkan-Nya.
Biarlah Dia mencoba menggambarkan apa yang tidak pernah dilihat, dirasakan, didengar atau dicium oleh manusia. Biarlah Dia mencoba mengkomunikasikan Allah kepada manusia.
Biarlah Dia dikhianati oleh teman-teman terdekat-Nya. Biarlah Dia didakwa dengan tuduhan-tuduhan palsu dan diadili di depan juri yang berprasangka dan dihukum oleh hakim yang pengecut.
Biarlah Dia merasakan betapa mengerikannya kesendirian itu, benar-benar disingkirkan oleh setiap makhluk hidup. Biarlah Dia dianiaya, dan biarlah Dia mati dengan cara yang paling memalukan bersama dengan pencuri biasa.

Saat setiap pemimpin mengumumkan bagian hukumannya, suara bernada setuju terdengar bergemuruh dari gerombolan orang banyak itu.

Ketika pemimpin terakhir selesai mengumumkan hukumannya, ada keheningan yang panjang. Tidak seorang pun mengucapkan sepatah kata lagi. Tidak seorang pun bergerak. Karena, tiba-tiba, semua orang tahu – Allah telah menjalani hukuman-Nya. ***